Kamis, 14 Maret 2013

Laporan Pendahuluan Diare


DIARE


I.       KONSEP DASAR PENYAKIT.
A.    Pengertian.
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150 – 430 perseribu penduduk pertahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kematian di Rumah Sakit dapat ditekan menjadi kurang dari 3 %.
Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat daripada gastroenteritis, karena istilah yang disebut terakhir ini memberikan kesan seolah-olah penyakit ini hanya disebabkan oleh infeksi dan walaupun disebabkan oleh infeksi, asam lambung jarang mengalami peradangan.
Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian ilmu kesehatan anak FKUI / RSCM, diare diartikan sebagai BAB yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer bila frekuensi BAB sudah lebih dari 4 kali sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali.
Berdasarkan mula dan lamanya diare terbagi 2 yaitu:
1)      Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa hari sampai 7 atau114 hari.
2)      Diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu.

Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa, sedang pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu 2 minggu ( Arif, 1999: 500 ).

B.     Etiologi.
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
1)      Faktor infeksi.
a)      Infeksi enteral, yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi :
       Infeksi bakteri; Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dll.
       Infeksi virus; Entero virus, Rota virus, Astro virus dll.
       Infeksi parasit; Cacing ( Ascaris, Oxyuris, Trichiuris ), Protozoa ( Entamoeba histolytica, Glardia lamblia ), Jamur ( Candida albicans ).
b)      Infeksi parenteral, yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti Otitis Media Akut ( OMA ), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
2)      Faktor malabsorbsi.
a)      Malabsorbsi karbohidrat; Disakarida ( Intoleransi laktosa, Maltosa dan Sukrosa ), Monosakarida ( Intoleransi glukosa, Fruktosa dan Galaktosa ) pada bayi dan anak yang terpenting dan yang tersering ialah Intoleransi Laktosa.
b)      Malabsorbsi lemak.
c)      Malabsorbsi protein
3)      Faktor makanan; makananbasi, beracun, alergi terhadap makanan.
4)      Faktor psikologis; rasa takut dan cemas, walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

C.    Patofisiologi.
Biasanya terbatas pada lapisan mukosa, bila sering mencerna salsilat / alkohol dapat menyebabkan pendarahan pada lambung yang berasal dari korosi kapiler. Hal ini berakibat meningkatkan sekresi air dan garam kedalam lumen usus dan meningkatnya mobilitas usus sehingga makanan tidak tercerna dalam jumlah besar dan dikeluarkan bersama cairan. Ini dapa menyebabkan tubuh kehilangn cairan dan elektrolit, sehingga dapat terjadi dehidrasi dan bila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan syok hipovolemik sampai pada kematian.
Adapun mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah;
1)      Gangguan osmotik.
Terdapat makanan / zat yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2)      Gangguan sekresi.
Akibat rangsangan tertentu ( misal oleh toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan akhirnya diare timbul.
3)      Gangguan mobilitas usus.
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula ( Ngastiah, 1997, 144 ).

D.    Manifestasi Klinik.
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang / tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir / darah, warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitar lecer karena seringnya defekasi, gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare.
Bila penderita telah kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Tingkatan dehidrasinya adalah;
1)      Dehidrasi ringan.
Kehilangan cairan <  5 % atau rata-rata 25 ml/kg BB, mau minum, kesadaran baik, nadi normal, rasa haus, ubun-ubun dan mata cekung, turgor kulit biasa, kencing normal.
2)      Dehidrasi sedang.
Kehilangan < 5 – 10 % atau rata-rata 75 ml/kg BB, gelisah, sangat haus, nadi agak cepat, pernafasan agak cepat, ubun-ubun dan mata cekung, kencing sedikit, turgor kulit kurang, minum lahap.
3)      Dehidrasi berat.
Kehilangan cairan < 10 – 15 % atau rata-rata 125 ml/kg BB, apatis, denyut nadi cepat, tekanan darah turun, anuria pusat, pernafasan cepat dan dalam, turgor sangat kurang, ubun-ubun dan mata cekung sekali, tidak mau minum. ( Ngastiah, 1997: 145 )

E.     Pemeriksaan Diagnostik.
1)      Pemeriksaan tinja.
a)      Makroskopis dan mikroskopis.
b)      PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
c)      Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
2)      Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah.
3)      Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4)      Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fospor dalam serum ( terutama pada penderita diare yang disertai kejang ).
5)      Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik / parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

F.     Penatalaksanaan Medis.
Dasar pengobatan diare adalah;
1)      Pemberian cairan ( rehidrasi awal dan rumat ).
a)      Jenis cairan.
b)      Jalan pemberian cairan.
c)      Jumlah cairan.
d)     Jadwal pemberian cairan.
2)      Dietetik ( pemberian makanan ).
a)      Untuk anak dibawah 1 tahun dan diatas 1 tahun dengan BB < 7 kg. Jenis makan ;
       Susu ( ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Aimiron ).
       Makanan setengah padat ( bubur susu ) atau makanan padat ( nasi tim ).
       Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau susu dengan asam lemak berantai sedang / tidak jenuh.
b)      Untuk anak diatas 1 tahun dengan BB > 7 kg. Jenis makanan;
       Makanan padat atau makanan cair / susu sesuai dengan kebiasaan makan dirumah.
3)      Obat-obatan.
a)      Obat anti sekresi.
       Asetosal 25 mg / tahun dengan dosis minimal 30 mg.
       Klorpromazin 0,5 – 1 mg / kg BB / hari
b)      Obat anti spasmolitik, misal; papaverine, opium, loperamid.
c)      Obat pengeras tinja, misal; koalin, pekhn, charcool, tabonal.
d)     Anti biotika, misal; tetrasiklin 20 – 50 mg / kg BB / hari, compylobacter diberikan eritromisin 40 – 50 mg / kg BB / hari.


II.    KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN.
A.    Diagnosa Keperawatan.
1)      Diare B. D inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus.
2)      Resiko tinggi kekurangan volume cairan B. D out put yang berlebihan.
3)      Perubahan nutrisi kurang dari keperluan tubuh B. D gangguan absorbsi nutrisi.
4)      Nyeri B. D hiperperistaltik usus.


B.     Intervensi Keperawatan. ( Doenges 1999 )
1)      Diagnosa 1.
       Observasi dan catat frekuensi, defekasi, karakteristik, jumlah dan faktor pencetus.
       Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur.
       Buang feses dengan cepat, berikan pengharum ruangan.
       Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare.
       Mulai lagi pemasukan cairan peroral secara bertahap.
       Observasi demam, takikhardi, lethargi.

2)      Diagnosa 2.
       Awasi masukan, pengeluaran, karakteristik dan jumlah feses.
       Ukur berat jenis urine, observasi oliguria.
       Kaji TTV.
       Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit.

3)      Diagnosa 3.
       Ukur BB setiap hari.
       Kaji intake dan out put.
       Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring.

4)      Diagnosa 4.
       Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas.
       Catat petunjuk non-verbal, misal; gelisah, menolak untuk bergerak, berhati-hati dengan abdomen, menarik diri dan depresi, selidiki perbedaan petunjuk verbal dan non verbal.
       Berikan tindakan nyaman.


DAFTAR PUSTAKA



Carpenito, Lynda Juall. 1997. Nursing Diagnosis Application To Clinical Practice, 7th Edition. New York ; Lippincoot.
Doenges, Marilyn, E, dkk. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan, Alih Bahasa Kariasa dan Ni Made Sumarwati Edisi 3. Jakarta; EGC.
Greenberg, Smith Cindy. 1998. Nursing Care Planning Guides ForChildreen. USA; William dan Wilkins.
Mansoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I.           Jakarta; Media Aesculapius. FKUI.
Staf Pengajar. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. FKUI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar